MENGELOLA DAYA DAN CAHAYA DI DALAM DIRI

Keberhasilan seseorang

dalam mencetak hidup cemerlang,

sangat ditentukan oleh kecermatan dan kecerdasan

dalam mengelola daya yang ada di dalam diri. 

Mereka yang bisa mengelola daya di dalam dirinya, pasti bisa membuahkan karya terbaik dan meraih kehidupan sesuai cetak birunya.  Mengelola daya di dalam diri, dimulai dengan membawa kesadaran kita pada kondisi selaras dengan gerak atau pusaran daya di dalam diri yang sejatinya mencerminkan gerak atau pusaran daya semesta itu sendiri.

Penulis mendapatkan wawasan berharga ketika berkunjung ke Ponorogo dan berbincang-bincang mengenai pengelolaan cahaya di dalam diri dengan Om Prapto (Agus Suprapto), seorang pendidik dan praktisi meditasi cahaya.  Om Prapto menjelaskan, ketika seseorang belum menata kesadarannya hingga selaras dengan pusaran daya di dalam diri, konfigurasi cahaya di dalam dirinya, akan tampak acak sebagaimana dapat terlihat pada gambar di bawah ini:

Image

Pada kondisi seperti ini, seseorang belum terhubung dengan pusat cahaya di dalam dirinya (Telenging Cahya Sejati/Inti Nur Ilahi/Yaktining Hurip). Wawasan hidupnya menjadi terbatas karena realitas bagi dirinya semata-mata apa yang bisa dicerap oleh panca indera.  Untuk realitas di luar itu, ia lebih banyak dipengaruhi oleh pandangan yang umum berkembang di lingkungannya.  Pola nalarnya dibentuk oleh apa yang didengar dari pihak-pihak lain yang dianggap punya otoritas.

Untuk beranjak dari kondisi di atas, seseorang perlu melakukan penyadaran dan pengelolaan energi. Metode yang bisa dilakukan adalah masuk ke dalam diri (masuk ke jagad alit).  Dengan cara ini seseorang  bisa menemukan keberadaan yang luas tak terbatas, melampaui apa yang bisa dicerap oleh panca indera.

Untuk bisa masuk ke jagad alit ini, salah satu kuncinya adalah mengenal cahaya-cahaya yang ada di dalam diri, mengenali cahaya yang paling dominan, dan menemukan dimana letak dari cahaya ilahi atau sumber sejati dari segala cahaya, lalu mendapatkan informasi/petunjuk darinya.

Mereka yang terlatih melakukan penyadaran dan masuk ke dalam diri, konfigurasi cahaya di dalam dirinya perlahan-lahan menjadi tertata sebagaimana bisa dilihat dalam gambar di bawah ini:

 Chakra_00

Bisa dilihat bagaimana pusaran-pusaran energi mulai dari pangkal tulang belakang hingga ubun-ubun akan terlihat sangat teratur, saling bertautan.  Hanya dalam keadaan seperti di atas, seseorang bisa mengenali cahaya-cahaya apa saja yang ada di dalam diri dan mulai bisa mengelola cahaya-cahaya tersebut.

Melalui intensitas berlatih, seseorang bisa semakin terampil mengelola daya dan cahaya di dalam dirinya untuk berbagai kegunaan dalam hidup.

Advertisements

MANUSIA

Image

Manusia adalah keberadaan yang terbentuk oleh materi semesta, terdiri dari tanah, api, air, udara yang membentuk wadag, kemudian itu diisi dengan daya hidup (roh ilahi, atman, sukma sejati) dari sumber hidup (Keberadaan/Sang Transenden).  Persenyawaan dari realitas spirit dan material itu menjadi apa yang kita kenal sebagai jiwa.  Jiwa inilah yang punya keakuan, dengan karakter tertentu sesuai struktur kimia dan fisika dari raganya.  Jiwa pulalah yang punya otoritas menentukan tindakan.

Maka, setiap manusia yang hidup di muka bumi ini memiliki tiga unsur yang independen tapi saling terkait membentuk sebuah kesatuan: raga, jiwa, roh. Raga memiliki indera atau alat untuk mengetahui sesuatu, yaitu panca indera: pendengaran, penciuman, penglihatan, perasa, dan pencecap.  Informasi yang diserap oleh panca indera diolah otak, dan lahirlah pengetahuan.  Pengetahuan yang dimiliki manusia sangat ditentukan oleh sejauh mana manusia menggunakan panca indera (untuk mengobservasi, mengamati), dan otak (untuk bernalar, memproses informasi yang masuk).  Proses membangun pengetahuan seperti ini disebut proses kognitif.

Lebih jauh tentang diri, bisa ditemukan bahwa di dalam diri setiap orang sebenarnya ada tiga realitas keberadaan jiwa, yaitu jiwa yang bergejolak oleh situasi yang terjadi di sekelilingnya – itu adalah jiwa yang disetir oleh gerak nalar dan perasaan. Itu yang sering disebut aku, kita kedagingan (hasrat).  Bersamaan dengan keadaan itu, kita juga tahu kenyataan adanya, keberadaan aku kita yang sedang memperhatikan aku yang bergejolak itu.  Dan aku yang tidak terpengaruh segala osik atau perubahan ini adalah esensi kita atau aku sejati kita.  Di balik kedua aku itu, ada lagi keberadaan yang lebih konstan, tenang, berwibawa dan memperhatikan dengan cermat terhadap segala osik kedua aku kita (aku kang disawang dan aku kang nyawang).  Inilah yang disebut Aku Sang Tanpa Batas (Ingsun).

CARA JAWA MENCAPAI KESADARAN MULTIDIMENSI

Di kawasan Gamping, Yogyakarta, pengasuh blog ini bertemu dengan salah satu praktisi meditasi yang mampu mencapai kesadaran multidimensi: lewat kesadaran sukma sejatinya ia menjelajah dimensi kehidupan lain dan menjangkau kehidupan di planet-planet lain.  Mas Uud, lengkapnya Antonius Rudianto Driessen, lalu mengkonversi apa yang didapatkan melalui perjalanan ini ke dalam berbagai bentuk teknologi tepat guna.  Di berbagai planet dimana ditemukan kehidupan seperti di muka bumi, Mas Uud mencermati teknologi yang ada, menemukan padanannya di bumi, dan mengujicoba teknologi itu dan melahirkan teknologi baru yang bisa berguna bagi banyak orang.  Contoh nyata teknologi yang bisa dikembangkan adalah penggunaan mikroba dari Planet Mars untuk menjadi nutrisi multiguna, bagi kepentingan pemupukan organik, pengobatan, maupun pembuatan makanan penuh gizi.  Mikroba yang sama, bisa diaplikasikan pada accu untuk mendukung sistem kelistrikan pada mobil listrik yang pernah diujicobakan di Kementrian BUMN.  Mas Uud sendiri salah satu perancang mobil listrik tersebut.

Apakah peristiwa ini adalah sebuah mukzizat atau keajaiban?  Atau malah cerita mengada-ada?  Pertama, cerita di atas adalah sebuah kasunyatan karena bukti-buktinya bisa dilihat dengan kasat mata, ada produk teknologi yang bisa disaksikan siapapun.  Mikroba yang disebutkan di atas juga bisa diverifikasi sebagai organisme bukan asli planet Bumi.  Kedua, menyangkut kehidupan di luar Planet Bumi, ada banyak petunjuk bahwa itu adalah kebenaran.  Royal Records of Tuthmosis III, 1480 SM, menyebutkan penyaksian bersama oleh Pharaoh dan punggawa istana terhadap benda-benda di langit, yang dalam bahasa sekarang di sebut UFO.  Book of Dead juga menjelaskan keberadaan obyek-obyek bercahaya di langit yang kemudian pergi.  Kitab Weda menyebutkan tentang “dewa cahaya”, yang bisa diidentifikasi sebagai keberadaan atau titah urip dari luar bumi yang mendatangi bumi.  Cicero dalam De Divinatione menyebutkan tentang ”mutiara di langit” yang bisa dikategorikan sebagai mesin yang terbang di langit.  Masih banyak manuskrip kuno dari berbagai pelosok jagad yang  menjelaskan jejak-jejak keberadaan dari luar Planet Bumi.  Dan pada saat ini, ada banyak informasi tentang penyaksian UFO dan jejak-jejak keberadaan titah urip dengan kecerdasan dan teknologi tinggi dari luar Planet Bumi.

Memperkuat pendapat di atas, robot yang dikirimkan NASA untuk memotret kehidupan di Planet Mars, yaitu Curiosity, mengirimkan foto-foto yang mengindikasikan keberadaan berbagai makhluk hidup seperti kelinci dan tikus.  Keberadaan mikroba di Planet Mars, berarti bukan sesuatu yang mustahil, karena Mars memang planet yang diindikasikan memiliki kehidupan.

Berikutnya, bisa dinyatakan bahwa apa yang dialami oleh Mas Uud juga bukan mukzizat atau keajaiban yang hanya bisa dilakukan orang-orang tertentu yang dipandang suci.  Pencapaian Mas Uud adalah gambaran dari pendayagunaan optimal dari potensi manusia yang mengagumkan.  Itu sebenarnya bukan perkara aneh, karena manusia dalam kosakata Jawa dikenal sebagai dewa ngejawantah yang bisa menjalankan peran hamemayu hayuning bawono.  Siapapun yang berlatih intensif mendayagunakan potensi pribadinya, sewajarnya bisa mencapai tataran itu.

Manusia bukanlah sekadar raga yang tersusun dari materi semesta: air, angin, api dan tanah.  Tapi ia adalah titah urip yang juga memiliki dimensi spirit, yang disebut dengan berbagai terminologi: sukma sejati, the divine spirit, roh kudus, dan berbagai sebutan lainnya.  Ketika kesadaran seseorang manunggal dengan kesadaran sukma sejatinya ini, maka ia terhubung dengan kuasa tak terbatas, dan pengetahuan yang melampaui sekat-sekat ruang dan waktu.  Siapapun bisa terhubung dengan sukma sejatinya jika ia tekun berlatih membangun penyadaran diri dan mencapai keheningan.

Karena setiap manusia memiliki sukma sejati, maka setiap orang bisa melakukan berbagai tindakan “hebat” termasuk yang melampaui nalar umum.  Sang sukma sejatilah yang menjadi sumber kuasa itu, untuk menunaikan apa yang menjadi missi pribadi sesuai cetak biru masing-masing.

PENJELASAN

Image

Apa yang dialami oleh Mas Uud di atas, adalah fenomena pencapaian kesadaran multidimensi.  Dalam keadaan ini, pada satu waktu yang sama seseorang memasuki berbagai dimensi atau lapis kehidupan.  Kehidupan di semesta ini sejatinya bukan sekadar apa yang bisa dicerap oleh panca indera, tetapi juga yang di luar itu.  Ada dimensi-dimensi yang bisa dicapai ketika seseorang telah masuk pada kesadaran tubuh yang lebih halus, sebagai contoh kesadaran tubuh eterik dan tubuh astral.  Dengan pendekatan ini, seseorang pada saat bersamaan bisa menangkap informasi melalui panca inderanya, sekaligus melalui instrumen pada tubuh astralnya.   Dan informasi yang diperoleh bisa berasal dari bagian jagad yang kasat mata, sekaligus bagian jagad yang tak kasat mata.

Kemampuan seperti ini, sejatinya bukanlah kemampuan aneh, ajaib, atau hanya milik “orang suci” dan “manusia istimewa”.    Ini adalah kemampuan yang sewajarnya dipunyai manusia, karena sudah tersandikan dalam genetikanya, dan menjadi cetak biru setiap manusia.   Persoalannya manusia menyadari perkara ini atau tidak, dan siap hidup sesuai cetak birunya atau tidak.  Seseorang bisa mencapai kehidupan terbaik sesuai cetak birunya, termasuk bisa mengalami kesadaran multidimensi ini, jika tekun mengelola berbagai potensi di dalam dirinya.

Potensi manusia tersebut, telah kita bahas, disandikan dalam DNA.  Temuan para pakar medis modern menetapkan bahwa kita memiliki 2 untai DNA utama, dan 10 untai DNA tambahan (dunia kedokteran menyebutkan 10 DNA tambahan ini sebagai DNA “sampah”).  Pada umumnya, manusia baru mendayagunakan 2 untai DNA utama dan melupakan 10 untai DNA tambahan.  Padahal pendayagunaan 10 untai DNA tambahan adalah prakondisi agar manusia bisa mencapai tujuan kehidupan tertingginya, termasuk masuk dalam kesadaran multidimensi.

Berhubungan kembali dan mengaktifkan 10 helai DNA tambahan kita menjadikan kemampuan fisik multidimensional kita bangkit dan membuat jaringan syaraf kedua di tingkat tubuh eterik berkembang. Jaringan saraf kedua ini adalah apa yang memungkinkan kita untuk hidup dalam berbagai dimensi sekaligus. Kita bisa mendengar, melihat dan berkomunikasi dengan orang lain dalam dimensi ini.

Proses di atas, pertama, dilakukan melalui penyadaran terhadap Kelenjar Timus. Timus (bahasa Inggristhymusbahasa Yunani: θυμός, tumos – hati, jiwa, keinginan, kehidupan) adalah sebuah kelenjar yang terletak di depan  dada, yang mencapai berat maksimalnya saat manusia memasuki masa pubertas. Kelenjar timus merupakan kelenjar yang bertanggungjawab dalam pertumbuhan manusia. Bila kekurangan kelenjar timus akan menderita kretinisme (kekerdilan) dan bila kelebihan menimbulkan gigantisme (raksasa).

Dalam kegiatan meditasi, penyadaran Kelenjar Timus ini dilakukan melalui konsentrasi pada Cakra Anahata atau Pusaran Daya Jantung.  Proses konsentrasi ini adalah momentum untuk melakukan penataan kode sesuai kehendak kita.

Proses selanjutnya dari RRA adalah menarik kode yang sudah tertata ini ke ubun-ubun dimana terletak Cakra Sahasrara/Cakra Mahkota atau Pusaran Daya Ubun-Ubun.  Proses inilah yang membuat 10 untai DNA tambahan menjadi berdaya guna, membuat kita menjadi manusia seutuhnya – yaitu manusia yang 12 helai DNA-nya berdaya guna.

Pada saat ini kebanyakan manusia memiliki dua untai DNA aktif, diwakili oleh double helix terjalin. Beberapa orang telah mengembangkan dan mengintegrasikan tiga helai DNA atau lebih. Sejumlah besar bayi yang lahir saat ini (disebut anak-anak kristal) memiliki banyak untai DNA yang berkembang. Sebuah tes darah sederhana dapat memverifikasi fakta ini. 

Proses yang kita bicarakan ini membantu agar setiap orang bisa membuat keseluruhan untai DNA yang dimiliknya berkembang dan berdaya guna, sekalipun mereka terlahir bukan sebagai anak-anak kristal.  Ini penting karena sejatinya setiap manusia terlahir dengan cetak biru bisa meraih kesadaran multidimensional dan berperan aktif dalam proses penyelarasan semesta.

Masing-masing dari 12 untai DNA merupakan salah satu dari dua belas aspek kesadaran multi-dimensi. Tiga untai DNA mewakili dan mengatur tubuh fisik, tiga lainnya terkait dengan dengan tubuh emosional, tiga dengan tubuh mental dan tiga sisanya dengan tubuh rohani. Semua aspek ini diwakili dalam tubuh kita sebagai jalur saraf baru ke otak. Mereka terhubung dan dipelihara melalui sistem endokrin ( sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk memengaruhi organ-organ lain). Sistem pengendalian kelenjar ini bekerja sama secara erat dengan pusaran energi dalam tubuh kita yang dikenal sebagai sistem chakra. Ketika semua jalur saraf bekerja selaras dengan sistem chakra maka akan tersedia saluran penghubung dengan dimensi jagad yang lebih tinggi, dan terjadilah kesadaran multidimensi.

RAHASIA KECEMERLANGAN HIDUP

 

Image

 

Rumus pertama untuk meraih kecemerlangan hidup, adalah mengerti secara tepat mengenai pengertian tentang sukses.  Pengertian secara umum, sukses adalah ketercapaian sebuah tujuan atau cita-cita. Kita bisa menemukan realitas, bahwa tujuan atau cita-cita seseorang umumnya dipengaruhi oleh konsep yang telah berlaku di masyarakat lalu masuk ke dalam memori seseorang dan membentuk pola nalar, pola rasa dan pola laku.  Pembentukan ini terjadi melalui proses pendidikan di dalam keluarga,  di lingkungan dan di sekolah.

Maka, seringkali terjadi, orang berbicara tentang sukses tapi mereka tak mengerti secara tepat sukses itu apa. Mereka hanya mengikuti sukses menurut pengertian banyak orang yang belum tentu tepat.  Dan ketika itu diikuti, sukses dan hidup cemerlang malah menjauh.

Sejatinya, secara esensial, sukses adalah keadaan ketika seseorang bisa mengetahui destiny pribadinya dan mampu memenuhi destiny itu dengan kosisten di dalam kehidupannya.   (Catatan:   Destiny (Eng) = Takdir (Arb) = Pepesthen (Jw) = Garis Ketetapan atau Kepastian Hidup (Ind) = Cetak Biru atau Blue Print Kehidupan)

Setiap orang pasti memiliki cetak biru kehidupan masing-masing.  Maka baromater akurat kesuksesan adalah sejauh mana seseorang dapat memenuhi cetak birunya itu.

Secara esensial bisa dijelaskan sebenarnya ukuran kesuksesan bukanlah pencapaian materi,  yang berupa kepemilikan harta, jabatan, atau diraihnya kegemerlapan hidup.  Untuk perkara ini, tidak ada hitungan dan ukuran yang sama bagi setiap orang, karena setiap orang memiliki destiny sendiri.  Kita tidak bisa menilai kesuksesan orang yang berbeda dengan cara dan ukuran yang sama.  Tidak setiap orang yang bergelimang harta dan punya jabatan tinggi bisa dikatakan sukses.  Sebaliknya, juga tidak bisa begitu saja dikatakan bahwa orang yang hidup bersahaja adalah orang yang gagal.

Oleh karena itu maka ukuran sukses secara esensial dan berlaku bagi setiap orang adalah kesanggupan/ kemampuan/kapabilitas seseorang dalam:

  • Menangani dan mengatasi (to handle and to overcomeEng, NgregemJw)  setiap perkara hidup yang sedang dihadapi dan tahu solusi yang tepat untuk persoalan itu;
  • Memberikan atau membuahkan karya yang berguna bagi lingkungan baik itu manusia maupun keberadaan yang lain.

Siapapun yang bisa memenuhi kriteria di atas, tak peduli orang tersebut memiliki uang berapa dalam rekening banknya atau malah tak punya rekening bank sama sekali, entah orang tersebut seorang pejabat tinggi di pemerintahan atau sekadar petani kecil, ia layak disebut sebagai orang sukses.

 

CARA PASTI

Orang yang ingin meraih kesuksesan, umumnya terkendala ketidaktahuan akan cara yang pasti untuk sampai ke titik sukses tersebut.  Siapapun yang terkendala perkara ini, perlu memperluas wawasan atau cakrawala nalar sehingga bisa mengetahui dengan akurat kausalitas untuk sebuah kesuksesan.  Pembelajaran terus menerus akan realitas hidup yang membuat kita mengerti akan karakter kehidupan ini dan hukum kausalitas yang berjalan di dalamnya, membuat kita mengerti dengan pasti apa yang perlu kita lakukan untuk bisa meraih sukses dan mencetak kecemerlangan hidup.

Setiap orang perlu meninggalkan cara bernalar spekulatif dalam meraih kecemerlangan hidup, yang disimbolkan dengan perkataaan “saya akan mencoba”,  “semoga berhasil” atau “mudah-mudahan sukses”.  Sebaliknya, kita perlu punya kesadaran penuh bahwa setiap orang memiliki jalan yang pasti untuk sukses, dan itu bisa diketahui.  Sebagaimana ada kausalitas yang pasti dalam peristiwa pemanasan sepanci air, demikian pula ada kausalitas pasti dalam tindakan untuk meraih sukses.  Sebenarnya bisa dinalar secara gamblang, mana tindakan yang mengantarkan kita pada kecemerlangan hidup dan mana yang mengantarkan pada situasi sebaliknya.  Setiap orang yang telah bertindak optimal untuk mengenali cetak biru hidupnya, dan hidup selaras dengan cetak biru itu, pasti berhasil.  Setiap orang yang telah menabur tindakan yang tepat dalam setiap kesempatan yang dimilikinya, pasti berhasil. 

Setiap tindakan pastilah punya konsekuensi logis, dan itu bisa dievaluasi dengan akurat.  Orang pasti gagal dalam hidupnya ketika memiliki pola nalar yang terdistorsi, kegamangan sikap dan kekeliruan tindakan.  Itu kausalitas dalam hidup yang tak bisa dibantah siapapun.  Mereka yang nalarnya terdistorsi perlu diruwat nalarnya.  Ruwatan intelejensia memastikan pemulihan nalar dari situasi terdistorsi itu, sehingga siapapun kemudian bisa bersikap mantap (dalam terminologi Jawa disebut “madhep mantep tan kena mayang tumoleh.”), dan bertindak tepat dalam kehidupan ini.  

CANDI DIENG

dieng2

Berdasarkan literatur yang tersebar luas di internet, diketahui candi-candi yang ada di Dieng adalah warisan dari Kerajaan Maratam Kuno. Berbagai candi yang ada, tuntas dibangun pada abad ke-8. Nah, yang perlu ditelusuri lebih jauh, adalah terdapat analisis merujuk penandaan yang ada di komplek Candi Dieng berupa 4 tonggak sejajar di depan komplek yang sekarang disebut Dharmasala: sangat mungkin candi-candi tersebut mulai dibangun pada abad ke-4.

Secara umum, candi di Dieng memang berfungsisebagai tempat pemujaan, tempat manekung. Ini menjadi kelengkapan dari Kraton Mataram Kuno, sebagaimana juga CandiGedong Songo di Ungaran. Berbicaratentang Mataram Kuno, tak bisa dilepaskan dari sejarah Kraton Sunda. Karena Rakai Sanjaya sebagai pendiri MataramKuno, masih terkait dengan Kraton Sunda. Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Ratu Shimadari Kalingga, di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalahBratasenawa / SENA / SANNA, Raja Galuh ketiga, teman dekat Tarusbawa. Sena adalahcucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua(702-709 M). Sena pada tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh PURBASORA.Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah. Sena dankeluarganya menyelamatkan diri ke Sundapura, pusat Kerajaan Sunda, dan memintapertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena,sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara/ Kerajaan Sunda. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus KerajaanGaluh yang sah, menyerang Galuh, dengan bantuan Tarusbawa, untuk melengserkan Purbasora. Setelah itu ia menjadi Raja Kerajaan Sunda Galuh.

Sanjaya adalah penguasa Kerajaan Sunda,Kerajaan Galuh dan Kerajaan Kalingga (setelah Ratu Shimamangkat). Sebagai ahli waris Kerajaan Kalingga, Sanjaya menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi Mataram (Mataram Kuno) pada tahun 732 M. Kekuas aandi Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya dari Tejakencana, yaitu TamperanBarmawijaya alias Rakeyan Panaraban. Ia adalah kakak seayah Rakai Panangkaran, putera Sanjaya dari Sudiwara puteriDewasinga Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda_Galuh).

Maka, sangat mungkin, walaupun Candi Diengterkait erat dengan Kraton Mataram Kuno dan pembangunannya disempurnakan padaera Mataram Kuno, cikal bakalnya sudah ada bahkan sebelum kraton ini berdiri.

Fungsi dari berbagai bangunan yang ada di Komplek Candi Arjuna bisa dijelaskan sebagai berikut. Di tempat yang sekarang disebut Dharmasala, dulunya adalah ruangan bagi para ksatria termasuk raja yang hendak menjalankan ritual di Dieng. Di seberang bangunan tersebut, adalah ruangan bagi para brahmana. Di belakang ruangan bagi para ksatria, terdapat 2 sumur yang berfungsi sebagai sumur panglukatan dan pensucian. Sayang sekali dua sumur ini tak terawat dengan baik.

Lalu, Candi yang dinamai Candi Semar, adalah tempat dilakukannya ritual pendahuluan sebelum melakukan pemujaan terhadapSyiwa, yang menjadi fungsi dari candi yang disebut Candi Arjuna. Candi kedua, sejatinya adalah candi pemujaanu ntuk Dewa Wisnu. Dan di depannya juga terdapat candi yang mirip dengan Candi Semar, tapi sekarang sudah roboh. Candi ketiga adalah tempat pemujaan untukDewa Brahma, baru candi keempat adalah candi yang didedikasikan untuk yang mbahurekso di Tanah Jawa.

Keberadaan Candi Syiwa, Wisnu dan Budha, menunjukkan bahwa di masa Mataram Kuno, terjadi sinergi antar berbagai aliran Hindu: pihak kerajaan memfasilitasi setiap kelompok untuk menjalankan ritual masing-masing. Inilah yang menjadi manifestasi prinsip Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa yang dipopulerkan Empu Tantular dalam Serat Sutasoma. Kemudian, ditegaskan juga prinsip penghormatan terhadap tradisi lokal dengan memberi ruang pemujaan khusus bagi sosok yang dihormati di Tanah Jawa.
Bagi kita yang hidup di masa kini, bisa mendaptkan pengalaman terbaik dari manekung di Candi Dieng jika mengerti filosofi dan struktur bangunan yang ada di sana. Idealnya, kita memulai ritual di Candi Semar, sebagai ritual pembuka. Setelah itu,kita bisa memilih tempat manekung yang sesuai: karena masing-masing memberikan dampak dan kegunaan yang berbeda. Sayapribadi, saat sesi meditasi malam hari, memilih meditasi di dalam Candi Brahma (Candi Sumbadra), karena merasa butuh untuk menguatkan kembali unsur api di dalam diri saya.

Lebih jauh, bisa diterangkan bahwa Komplek Candi Arjuna ini disebut juga sebagai Balekambang, karena dulunya memang mengapung di atas telaga (dalam pengertian, komplek tersebut dikelilingi olehtelaga yang luas). Sayang sekali ,seiring perjalanan waktu, telaga tersebut sebagiannya mengering dan beralihfungsi menjadi lahan pertanian. Saat ini sedang ada upaya mengembalikan fungsi telaga, tapi masih terkendala dengan keberadaan petani yang telah memanfaatkan sebagian lahan tersebut.

Di sekeliling Candi Arjuna, terdapat berbagai candi, yaitu Candi Dewi Durga, Candi Dewi Uma, dan Candi Dewi Laksmi/Sri. Jika meminjam istilah saat ini, candi-candi tersebut adalah Candi Gatotkaca, Candi Bima dan Candi Dwarawati. Candi-candi tersebut menunjukkan keberadaan shakti bagi para dewa yang candinya dibangun di komplek candi utama.

CANDI BOKO

padma lodra

Candi Boko atau Istana Ratu Boko adalah sebuah bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama Abhayagiri Vihara ini didirikan untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual.

Istana ini terletak di 196 meter di atas permukaan laut. Areal istana seluas 250.000 m2 terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban. Sementara, bagian tenggara meliputi Pendopo, Balai-Balai, tigacandi, kolam, dan kompleks Keputren. Kompleks gua, Stupa Budha, dan kolam terdapat di bagian timur. Sedangkan bagian barat hanya terdiri atas perbukitan.

Bila masuk dari pintu gerbang istana, anda akan langsung menuju ke bagian tengah. Dua buah gapura tinggi akan menyambut anda. Gapura pertama memiliki tiga pintu sementara gapura kedua memiliki limapintu. Bila anda cermat, pada gapura pertama akan ditemukan tulisan ‘Panabwara’. Kata itu, berdasarkan prasasti Wanua Tengah III, dituliskan oleh Rakai Panabwara, (keturunan Rakai Panangkaran) yang mengambil alih istana. Tujuan penulisan namanya adalah untuk melegitimasi kekuasaan, memberi ‘kekuatan’ sehingga lebih agung dan memberi tanda bahwa bangunan itu adalah bangunan utama.

Sekitar 45 meter dari gapura kedua, anda akan menemui bangungan candi yang berbahan dasar batu putih sehingga disebut Candi Batu Putih. Tak jauh dari situ, akan ditemukan pula Candi Pembakaran. Candi itu berbentuk bujur sangkar (26 meter x 26 meter) dan memiliki duateras. Sesuai namanya, candi itu digunakan untuk pembakaran jenasah. Selain kedua candi itu, sebuah batu berumpak dan kolam akan ditemui kemudian bila anda berjalan kurang lebih 10 meter dari Candi Pembakaran.

Sumur penuh misteri akan ditemui bila berjalan ke arah tenggara dari Candi Pembakaran. Konon, sumur tersebut bernama Amerta Mantana yang berarti air suci yang diberikan mantra. Kini, airnya pun masih sering dipakai. Masyarakat setempat mengatakan, air sumur itu dapat membawa keberuntungan bagi pemakainya. Sementara orang-orang Hindu menggunakannya untuk Upacara Tawur Agung sehari sebelum Nyepi. Penggunaan air dalam upacara diyakini dapat mendukung tujuannya, yaitu untuk memurnikan diri kembali serta mengembalikan bumi dan isinya pada harmoni awalnya. Melangkah ke bagian timur istana, anda akan menjumpai dua buah gua, kolam besar berukuran 20 x 50 meter dan stupa Budha yang terlihat tenang. Dua buah gua itu terbentuk dari batuan sedimen yang disebut Breksi Pumis. Gua yang berada lebih atas dinamakan Gua Lanang sedangkan yang berada di bawah disebut Gua Wadon. Persis di muka Gua Lanang terdapat sebuah kolam dan tiga stupa. Berdasarkan sebuah penelitian, diketahui bahwa stupa itu merupakan Aksobya, salah satu Pantheon Budha.

Meski didirikan oleh seorang Budha, istana ini memiliki unsur-unsur Hindu. Itu dapat dilihat dengan adanya Lingga dan Yoni, arca Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan “Om Rudra ya namah swaha” sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya arsitektural. Memang, saat itu Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.

Di Istana Ratu Boko ini, kita bisa coba menyambung rasa dengan Eyang Bandung Bondowoso. Beliau adalah salah satu leluhur agung tanah Jawa yang sakti mandraguna, putra Prabu Damar Maya dari Kraton Pengging yang pada jamannya terkenal gemah ripah loh jinawi.

PURA PARAHYANGAN AGUNG JAGADKARTA

JAGADKARTA

Nama PARAHYANGAN AGUNG JAGAT KARTTA diambil dari filosofi penciptaan alam semesta, dimana ketika Ida Sang Hyang Widhi Wasa menciptakan alam semesta serta menurunkan ajaran Sang Hyang Catur Veda, bergelar Sang Hayng Jagat Kartta. (Lontar Widhi Sastra Catur Veda Gria Aan Kelungkung). Dan pura ini sendiri mulai dirintis pembangunannya pada tahun 1995, dimulai dengan pendirian sebuah candi yang diyakini sebagai petilasan Prabu Siliwangi, dan langkah itu merupakan upaya penghormatan kepada leluhur Tatar Sunda.

Prabu Siliwangi sendiri, adalah nama lain dari Sri Baduga Maharaja, yang terkenal dengan Sesantinya “Tata Tentrem Kertha Raharja”, dan tercatat telah membawa zaman keemasan bagi Pajajaran. Di kerajaan ini, kehidupan masyarakat dijalankan sebagai penghormatan kepada ajaran leluhur “Sang Hyang Dharma dan Sang Hyang Siksa”. Masa jaya Pajajaran berlangsung selama Pemerintahan beliau tahun 1482 – 1521. Dan dilanjutkan oleh putranya yang bernama RAJA SURAWISESA, tahun 1521 – 1535. Demikian yang tertera pada batu bertulis di Jalan Batu Tulis Bogor, yang dibuat pada tahun Saka 1455 atau 1533 M.

Secara lengkap, pura nan eksotis di kaki Gunung Salak tersebut bernama “PARAHYANGAN AGUNG JAGATKARTTA TAMANSARI GUNUNG SALAK”. PARAHYANAG berarti tempat para Hyang/Widhi; AGUNG berarti besar, mulia; JAGAT berarti bumi; KARTTA berarti lahir, muncul, TAMANSARI berarti tempat yang indah, yang kebetulan juga nama Kecamatan, lokasi Pura ini didirikan.

Keseluruhan nama tersebut mangandung makna : “Pura ini adalah tempat yang indah dan mulia sebagai Stana Tuhan Yang Maha Agung, yang berlokasi di Kecamatan Tamansari Gunung Salak, Bogor Jawa Barat.

Satu hal yang sangat menarik dari pura ini, adalah bahwa ia seperti menjadi rumah bagi semua orang. Pihak pengelola pura membuka diri terhadap kedatangan pengunjung dengan latar belakang agama bahkan etnis apapun. Siapapun yang memang berniat ke sana untuk mengolah bathin, manekung, maneges, atau untuk bertemu dan menjalankan dawuh leluhur, bisa masuk ke Mandala Utama. Seperti yang saya saksikan sendiri, pada satu kunjungan, seusai meditasi di Mandala Utama, saya mengobrol dengan Mangku Darsa dan Mangku Linggih yang tengah bertugas. Lalu, datang seorang laki-laki berusia sekitar 50-an tahun, disertai istrinya, minta ijin untuk hening di situ. Rupanya, ia mendapatkan pesan lewat mimpi, untuk menjumpai leluhurnya yang akan hadir ke situ. Padahal, leluhurnya bukan orang Sunda, melainkan dari salah satu suku tua di Sulawesi Utara.

Untuk para pengunjung yang sekadar ingin menikmati keindahan kawasan pura juga diperbolehkan. Tapi hanya sampai di Mandala Tengah, di mana ada Palinggihan Sri Ganesha dan Palinggihan Ratu Agung Dalem Ped.