GUA CIREMAI

gua cermai

Gua Ciremai atau Gua Cerme, terletak di Dusun Srunggo, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Gua ini, dalam tradisi spiritual Jawa adalah tempat menjalankan laku methukke tirta (menjemput tirta sebagai sangune laku). Saya ke tempat ini malam hari, memulai perjalanan dari pintu gua jam 22.00 WIB. Mencapai gua tersebut, setiap pengunjung harus menyusuri jalan yang menanjak, dan punya beberapa kelokan tajam. Di tepi kanan dan kiri, terlihat gerumbul pepohonan yang cukup lebat. Diselimuti malam, gerumbul pepohonan itu memancarkan aura yang menyimpan misteri. Di kawasan yang cukup tinggi, sudah mulai dekat dengan lokasi gua, kita bisa melihat Kota Jogja yang dipenuhi pendar lampu di seluruh sudutnya. Jogja yang diselimuti malam, ditatap dari kejauhan, indah juga.

Bagi yang mengendarai kendaraan roda dua atau roda empat, tersedia tempat parkir di lokasi Gua Ciremai. Sekaligus, ada beberapa warung di situ, tempat men-charge energi fisik jika kita kelelahan. Untuk bisa masuk ke dalam gua, kita sebaiknya menghubungi beberapa juru kunci di situ yang bisa berperan sebagai pemandu, sembari menyewa senter, karena di dalam gua, tak ada bedanya antara siang dan malam, sama-sama gua. Rombongan kami, malam itu, diiringi dua pemandu.

Dari tempat parkir, untuk sampai ke pintu gua, kita bisa berjalan menyusuri jalan setapak, yang di sekelilingnya tumbuh pohon-pohon besar. Dari balik pohon-pohon yang menjulang, bintang-bintang mengintip sembari berkerlap kerlip. Di pintu gua, terdapat satu altar, tempat kita melaksanakan prosesi manembah, sebagai laku pembuka perjalanan untuk mendapatkan restu dari Gusti Pangeran Ingkang Murbeng Dumadi, para penguasa kekuatan jagad dan para leluhur, khususnya yang jumeneng di Gua Ciremai. Dalam prosesi ini saya menghaturkan sesaji: itu adalah pembeda dengan lakunya para wisatawan biasa. Dan tentunya, itu dilakukanagar kita mendapatkan manfaat optimal dari ritual yang dilakukan.

Panjang Gua Ciremai, total mencapai 1,3 km. Sepengalaman saya, kita menempuhnya selama empat jam. Yang membuat waktu tempuh perjalanan selama itu, pertama, adalah medan berat yang harus ditempuh dengan hati-hati agar tidak celaka –karena kita harus menghindari batu tajam di dasar sungai, semacam palung sungai yang bisa menjerumuskan kita, juga beberapa batu karang yang menggantung mengancam kepala. Kedua, adalah prosesi ritual/manembah/upacara yang kami lakukan di beberapa pepunden yang ada di gua tersebut. Prosesi ini pula yang menjadi pembeda antara perjalanan wisata dan perjalanan spiritual.

Tujuan utama dari perjalanan ke Gua Ciremai, adalah meraih Tirta Amerta/Tirta Kahuripan, yang berada di tengah gua. Tirta Amerta/Tirta Kahuripan adalah simbol jiwa yang bening dan hidup. Secara fisik, Tirta/Amerta ini adalah air bening yang keluar dari tuk/mata air di celah-celah gua: lalu menggenang di sebuah cekungan pada batu karang yang membulat. Airnya sungguh segar: tatkala diminum memang menyegarkan raga yang lelah. Secara filosofis, air ini mengingatkan kita pada prasyarat untuk mencapai kebahagiaan yang kekal: kita harus kembali pada kesucian dan kemurnian jiwa. Dan secara mistis, air ini punya energi khusus yang membantu kita untuk menjadi lebih hening, murni, dan berdaya.

Sebelum kita membasuh raga dan jiwa dengan Tirta Amerta/Tirta Kahuripan ini dan memperoleh daya magisnya, kita harus melalui tiga patirtan lainnya, yang masing-masing memiliki arti tersendiri. Pertama, adalah Tirta Panglukatan: sebuah mata air yang memiliki fungsi seperti Curug Panglebur Gongso, tempat kita mensucikan jiwa dan raga. Patirtan kedua, adalah Tirta Suci, yang juga menjadi tempat kita mensucikan jiwa raga. Bersuci di dua patirtan ini, membantu kita menyingkirkan segenap penyakit, derita, halangan, kesialan, dan berbagai hal negatif lainnya yang melekat pada diri kita.

Patirtan ketiga adalah Grojogan Sewu, yang mirip fungsinya dengan Telaga Madirda. Di sinilah kita membersihkan jiwa raga secara total. Untuk mereguk energi air di tempat ini, kita bisa mengguyur diri kita dengan air yang menggerojok dari atas, laksana air terjun mini di dalam gua, dan kungkum di lekukan-lekukan agak dalam yang bisa membuat tubuh kita tertutup air. Baru setelah kita membersihkan jiwa dan raga secara penuh, kita baru menggapai Tirta Amerta/Tirta Kahuripan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s